04 Februari 2017

14 Strategi Pemasaran Agribisnis Pertanian


14 Strategi Pemasaran Agribisnis Pertanian

Google+PinterestinkedInPrint
Indonesia sebagai salah satu negara dengan lahan pertanian terbesar di dunia menyimpan potensi besar yang kemudian dikembangkan dalam wujud agribisnis. Peluang dan potensi besar dari pertanian ini tentunya harus dimanfaatkan dimaksimalkan dengan baik oleh para pelakunya. Tidak hanya para petani sebagai garda terdepan agribisnis ini, namun pengembangan potensi ini juga harus didukung juga oleh para pemangku kebijakan yaitu pemerintah.
Dalam memaksimalkan potensi agribisnis ini sendiri dibutuhkan sebuah strategi yang tepat dan efektif dalam pemasarannya.
Dan berikut ini beberapa strategi pemasaran agribisnis pertanian yang bisa dijalankan.

1. Jadikan Agribisnis Sebagai Konsep industri yang Komprehensif

Strategi pertama untuk pemasaran agribisnis pertanian adalah dengan menjadikan agribisnis sebagai konsep industri yang komprehensif (menyeluruh). Di Indonesia bisnis pertanian (agribisnis) memang belum maksimal karena berjalan sendiri-sendiri (tidak menyeluruh). Sebagai contoh belum menyeluruhnya konsep industri agribisnis adalah industri pengolahan (Agroindustri) yang dimana bahan bakunya masih didatangkan dari luar negeri (impor). 
Untuk kasus yang satu ini ada lagi hal yang kurang menyenangkan yaitu adanya  peningkatan produksi pertanian yang tidak diikuti oleh perkembangan industri pengolahan yang berbasis sumberdaya domestik/lokal, sehingga diperlukan pengembangan Agribisnis Vertikal.

2. Bangun Keunggulan Agar Bisa Bersaing

Dalam menjalankan strategi yang satu ini, para pelaku bisa menjalankannya dengan cara:
  • Membangun sistem agribisnis yang akan digerakkan oleh kekuatan inovasi
  • Mengembangkan subsistem hulu dengan cara pembibitan, agro-otomotif, agro-kimia dan juga dengan mengembangkan subsistem hilir dengan mendalami industri pengolahan dan juga membangun jaringan pemasaran secara internasional.

3. Menjadikan Agroindustri sebagai Sektor Utama

Berikutnya, jalankan strategi pemasaran ini dengan mengaitkan agribisnis dengan agroindustri sebagai sektor utama. Agroindustri memang akan menjadi industri yang berkaitan langsung dan tak langsung secara ekonomi dengan komoditas pertanian.
Maka dari itu wujudkan hal ini dengan konsep yang mencakup hubungan komoditas pertanian sebagai bahan baku (input) untuk agroindustri atau dengan menjalankan kegiatan pemasaran dan perdagangan produk akhir agroindustri.

4. Membangun Sistem Agribisnis melalui Industri Perbenihan

Agribisnis memang tak akan bisa dilepaskan dengan industri perbenihan. Bahkan bisa dikatakan bahwa perbenihan merupakan mata rantai terpenting dalam keseluruhan pembentukan atribut produk agribisnis. 
Untuk menjalankan strategi yang satu ini maka beberapa atribut dasar dari produk agribisnis berikut ini haruslah diperhatikan dengan seksama. Atribut dasar dari produk agribisnis ini adalah seperti atribut nilai (ukuran, penampakan, rasa, aroma dan sebagainya), atribut nutrisi (kandungan zat-zat nutrisi) dan serta atribut keamanan dari produk bahan pangan.

5. Buat Industri Pupuk Mendukung Penuh Pengembangan Agribisnis

Selain pembenihan, kegiatan agribisnis juga harus didukung penuh oleh industri pupuk. Sayangnya industri pupuk di Indonesia masih saja terpusat pada satu perusahaan pupuk pemerintah. Padahal untuk mampu mengembangkan agribisnis ini diperlukan sistem networking yang baik secara vertikal (dari hulu ke hilir) maupun horizontal (sesama perusahaan pupuk). Dan salah satu cara untuk bisa mewujudkan hal ini adakah dengan cara penghapusan penggabungan perusahaan pupuk menjadi satu.

6. Jalankan Reposisi Koperasi Agribisnis

Koperasi yang merupakan organisasi bisnis yang dijalankan oleh sekelompok orang untuk mencapai kepentingan bersama memang sangat diperlukan oleh pengembangan agribisnis. Maka dari itu kegiatan agribisnis yang masih menjalankan aktivitasnya sendiri-sendiri perlu mereformasi diri agar lebih fokus pada perwujudan koperasi pertanian atau koperasi agribisnis dengan pelayanan usaha dari hulu sampai ke hilir.

7. Kembangkan Sistem Informasi Agribisnis

Untuk mewujudkan pemasaran agribisnis pertanian yang efektif perlu juga dikembangkan sistem informasi Agribisnis yang mumpuni.
Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mengambangkan sistem informasi agribisnis adalah distribusi, informasi proses, informasi produksi dan informasi pengolahan serta informasi pasar.

8. Membumikan Pembangunan Sistem Agribisnis dalam Otonomi Daerah

Dalam konsep otonomi daerah yang mencanangkan pembangunan Ekonomi Desentralistis-Bottom-up, maka agribisnis harus bisa dan mampu mengandalkan industri berbasis sumberdaya lokal disetiap daerah. Dengan melakukan hal ini maka agribisnis yang ada akan mampu mendorong pembangunan ekonomi nasional.

9. Ciptakan Dukungan Perbankan di Daerah

Kegiatan agribisnis memang membutuhkan pembiayaan dari pihak yang bisa melakukannya, dalam hal ini adalah bank. Maka dari itu untuk mewujudkan pemasaran agribisnis yang baik di daerah maka diperlukan dukungan peranan perbankan sebagai lembaga pembiayaan. Perbankan memang sangat penting untuk menentukan maju mundurnya agribisnis daerah. Sayangnya sampai saat ini alokasi kredit perbankan pada agribisnis daerah ini sangatlah kecil, khususnya pada on farm agribisnis.

10. Pengembangan Strategi Pemasaran

Saat Anda menjalankan pemasaran agribisnis saat ini maka jangan lupa untuk terus mengembangkan atau menumbuhkannya. Mengapa hal ini harus dilakukan? Sebab di masa depan atau di suatu waktu perilaku konsumen tidak akan tetap seperti saat ini. Namun tentunya akan ada perubahan karena faktor keadaan pasar yang heterogen, tren dan hal lainnya. 
Maka dari itu mulai saat ini Anda harus sudah mulai mengembangkan strategi pemasaran dengan cara mengubah paradigma konsep pemasaran lama menjadi konsep menjual apa yang diinginkan oleh konsumen.

11. Manfaatkan Teknologi dan Tingkatkan Kualitas SDM

Ya, keberadaan teknologi yang tiap hari makin pesat membuat Anda para penggerak agribisnis tak boleh berdiam diri saja. Anda harus ikut aktif memanfaatkan teknologi dalam mendukung pemasaran agribisnis Anda. 
Caranya, Anda bisa menerapkan strategi marketing melalui media sosial, website atau juga via instant messaging yang kini digandrungi masyarakat. 
Selain menerapkan teknologi, jangan lupa juga untuk melakukan pembagunan dibidang Sumberdaya Manusia (SDM) dengan meningkatkan kualitas dan kemampuannya.

12. Kembangkan Pusat Pertumbuhan Sektor Agribisnis

Jangan lupakan juga untuk melakukan pengembangan pusat-pusat pertumbuhan sektor agribisnis. Lakukan strategi ini dengan mendasarkan pada potensi perkembangan, kawasan kerjasama ekonomi dan juga peta perkembangan komoditas agribisnis.

13. Kembangkan Infrastruktur Agribisnis

Semakin baik infrastruktur dalam aktivitas agribisnis maka semakin baik pula pemasarannya. Maka dari itu para pelaku agribisnis harus bisa menciptakan pengembangan infrastruktur seperti jaringan jalan dan transportasi (laut, darat, sungai dan udara), pelabuhan domestik, pelabuhan ekspor, jaringan listrik, air dan lain-lain.

14. Menerapkan Kebijaksanaan Terpadu Pengembangan

Terakhir, strategi untuk mewujudkan pemasaran agribisnis pertanian yang baik adalah dengan menerapkan beberapa kebijaksanaan terpadu pengembangan yang terdiri dari hal-hal berikut ini, yaitu :
  • Jalankan kebijaksanaan pengembangan produksi dan produktivitas di tingkat perusahaan.
  • Untuk pengembangan seluruh aktivitas usaha sejenis, terapkan juga kebijaksanaan tingkat sektoral.
  • Ciptakan keterkaitan yang mengatur beberapa sektor agribisnis dengan sebuah kebijaksanaan pada tingkat sistem agribisnis.
  • Terakhir, buat dan jalankan kebijaksanaan ekonomi makro dalam industri agribisnis yang mampu mengatur seluruh bentuk kegiatan perekonomian agribisnis langsung maupun tidak langsung.
Demikianlah penjelasan mengenai strategi pemasaran dan pengembangan agribisnis pertanian  dimana setiap poin yang ada harus benar-benar dijalankan dengan baik dan efektif. Tidak lupa juga untuk mensukseskan strategi ini semua pihak yang terlibat dalam industri agribisnis, dari pihak petani hingga pembuat kebijakan agribisnis (pemerintah) harus bersama-sama berjuang dan bergerak mewujudkannya.

REGENERASI PETANI Melalui AGRISITRIPER

REGENERASI PETANI Melalui AGRI SITRIPER

AGRI SITRIPER : Sistem Integrasi Pertanian, Peternakan & Perikanan.
Konsep Pertanian "AgriSitriper" mengajarkan petani menanam Sayuran, Berternak, dan Membudidaya Ikan dalam lahan Pekarangan atau lahan lain yang tidak terlalu luas, menggunakan prinsip cepat dan terpadu, serta pemanfaatan bakteri untuk penyubur tanah.

Jadikan Pemuda Tani sibuk oleh kegiatan pertanian dan jangan biarkan hanya jadi penonton saja. Inilah akar persoalannya karena jika mereka tidak ada pekerjaan maka sangat rawan jadi Pemuda Pengangguran.

Konsep "AgriSitriper" ini dapat diterapkan hanya dengan modal Rp Rp. 1.000.000,-, dan luas lahan berukuran 10 x 10 meter untuk menanam Sayuran, Kandang Ternak, dilengkapi Kolam Terpal.
Dengan teknik dan Standar Operasi Prosedur tertentu maka dalam 40 hari sudah bisa panen untuk sayuran, dan dua bulan sekali untuk ikannya, enam bulan sekali untuk ternaknya.

Untuk hewan ternak, seperti ayam, kambing, dan lainnya akan dipelihara secara terus menerus untuk diternakkan sebagai ketahanan pangan keluarga, dan diambil kotorannya untuk menyuburkan tanah sebagai Pupuk Tanaman.

Untuk menjaga konsep ini tetap berlangsung secara terus menerus sehingga sampai pada tujuan mensejahterakan Pemuda Tani perlu dibentuk Badan Usaha Milik Petani (BUMP) kerjasama Dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang dikelola oleh desa bekerja sama dengan warga.

Konsep "AgriSitriper" ini sangat cocok sekali dengan program dana desa yang memberikan bantuan per desa pada setiap tahunnya. Pembuatan petak lahan "AgriSitriper" bagi warga dapat menggunakan dana ini, dari pada sekadar membangun pintu gerbang Desa.

Dengan adanya penggunaan dana yang produktif ini maka akan membuat warga menjadi mandiri karena mampu memenuhi kebutuhan dari kebun sendiri.

Pemerintah juga dapat menggandeng bahkan "memaksa" Dinas Instansi untuk membeli hasil pertanian cepat petani itu jika berlebih, semisal beras atau sayur bisa didistribusikan ke Pegawai Dinas Instansi.

Konsep "AgriSitriper" ini membuat Pemuda Tani berdaya.









PROBLEM REGENERASI PETANI



Problem Regenerasi Petani
Regenerasi Petani sudah perlu mendapat perhatian sebab jumlah petani terus turun dalam 10 tahun terakhir. Data statistik menunjukkan dalam kurun 2003- 2013 terjadi penurunan jumlah rumah tangga petani sekitar 5,10 juta  (16 persen). Rumah tangga petani di Indonesia pada 2003 berjumlah 31,23 juta dan menurun menjadi 26,14 juta pada 2013. Jumlah rumah tangga petani menurun lantaran yang keluar dari sektor pertanian, meninggal, dan berpindah kerja ke sektor lain lebih besar dibandingkan dengan tenaga kerja baru yang menjadi petani.  
Tiga provinsi yang memberikan sumbangan terbesar terhadap penurunan rumah tangga petani adalah Jawa Tengah (1,31 juta), Jawa Timur (1,14 juta), dan Jawa Barat (1,12 juta). Pesatnya urbanisasi di ketiga provinsi itu diduga sebagai penyebab utama penurunan jumlah rumah tangga petani. Urbanisasi berakibat pada beralihnya sebagian lahan pertanian menjadi daerah permukiman dan fasilitas umum. Angkatan kerja baru juga lebih memilih bekerja di sektor nir-pertanian karena merasa lebih menjanjikan dari sisi upah dan kelayakan kerja.
Masalah regenerasi petani semakin kentara jika dilihat dari penurunan jumlah tenaga kerja muda di pertanian. Jumlah petani usia muda (15-24 tahun) mengalami penurunan lebih besar dibandingkan dengan jumlah petani usia tua. Jumlah petani usia muda pada 2004 sebesar 5,95 juta menurun menjadi 5,02 juta pada tahun 2012 (BPS, 2005 dan 2013). 
Angkatan kerja muda tidak lagi berminat bekerja sebagai petani dan memilih bekerja di sektor lain yang dianggap lebih menjanjikan secara ekonomi. Suatu keputusan logis karena pertanian memang tidak memberikan jaminan kehidupan yang layak bagi pekerja.
Penurunan jumlah tenaga kerja pertanian di Indonesia berkonsekuensi positif dan negatif bagi pertanian. 
Konsekuensi positifnya: 
Peningkatan luas lahan dan penurunan jumlah petani gurem. Hasil sensus pertanian menunjukkan rerata luas lahan petani meningkat cukup signifikan. Rerata luas lahan pertanian pada 2003 sebesar 0,35 ha menjadi 0,86 ha pada 2013. Jumlah petani gurem menurun dari 19,02 juta pada 2003 menjadi 14,25 juta pada 2013. Keadaan ini memberikan peluang bagi petani untuk meningkatkan pendapatan.
Konsekuensi negatifnya: 
Ketahanan pangan terganggu di Indonesia. Meskipun secara kuantitas jumlah tenaga kerja di pertanian masih relatif besar, produktivitas lahan akan menurun. 
Pertama, sebagian besar petani di perdesaan umumnya sudah berumur tua. Meskipun jumlah mereka besar, produktivitas mereka sudah menurun. Kegiatan pertanian tidak bisa maju karena tidak bisa mengikuti perkembangan teknologi pertanian.
Kedua, keturunan petani yang memilih bekerja di luar sektor pertanian umumnya adalah keturunan petani yang berhasil. Keberhasilan mereka ditunjukkan dengan kemampuan menyekolahkan anak sampai jenjang pendidikan tinggi. Dengan pendidikan tinggi itu, anak-anak petani tidak mau lagi bertani dan memilih bekerja di sektor lain.  
Alternatif terakhir
Yang tetap menjadi petani akhirnya hanya mereka yang berpendidikan rendah dan kalah bersaing mendapat pekerjaan di luar sektor pertanian. Pertanian dijadikan sebagai alternatif terakhir setelah seseorang tidak bisa mendapat pekerjaan di luar sektor pertanian. Kebijakan pemerintah yang kurang mendukung  kemajuan di sektor pertanian menjadi penyebab utama mereka tidak lagi mau bekerja di sektor pertanian. Keengganan ini pun didukung orangtua yang sebagian besar bercita-cita anak mereka tak bekerja di sektor pertanian.
Ketiga, kegiatan pertanian bagi sebagian besar petani dianggap sebagai pekerjaan sampingan meski mereka mengaku bekerja sebagai petani. Alokasi waktu kerja sebagian besar digunakan untuk kegiatan nir-pertanian. Pada waktu panen, petani ini akan menggarap pekerjaan di pertanian. Namun, pada waktu tertentu mereka memilih bekerja sebagai tukang bangunan, pedagang asongan, atau buruh harian di perkotaan. Pekerjaan yang tak fokus ini menjadi penyebab kurang terurusnya lahan pertanian sehingga memiliki produktivitas rendah.
Masalah regenerasi dapat menjadi hambatan utama untuk implementasi program swasembada pangan di Indonesia. Masalah ini berpangkal pada tidak kompetitifnya upah dan pendapatan di sektor pertanian. Upah tenaga kerja di perdesaan tak ada setengahnya dibandingkan dengan upah tenaga kerja nir-pertanian di daerah perkotaan.
Petani juga berhadapan dengan impor produk pertanian yang berharga lebih rendah. Tak ada perlindungan memadai terhadap kehidupan petani agar dapat bersaing dan menangkal membanjirnya produk pertanian dari luar. Petani seperti dibiarkan berjalan sendiri, bahkan subsidi bagi petani kian berkurang.
Oleh sebab itu, kebijakan yang mendukung peningkatan  kelayakan hidup bagi petani mutlak diberikan agar pertanian tetap  menjadi pekerjaan menarik, khususnya bagi generasi muda. Perlindungan terhadap petani dari produk impor, permainan harga tengkulak, ketertinggalan teknologi juga perlu dilakukan. Tanpa regenerasi yang baik, program swasembada pangan canangan Presiden hanya akan jadi wacana yang tak pernah terwujud.
Penulis : Ngadi – Peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI
Sumber : Kompas, 27 November 2014

03 Februari 2017

PELATIHAN PEMBERDAYAAN PEMUDA TANI

PEMBERDAYAAN PEMUDA TANI DAN KELEMBAGAAN
MELALUI SISTEM KEBERSAMAAN EKONOMI
BERDASARKAN MANAJEMEN KEMITRAAN
(SKE – BMK)
Memfasilitasi Pelatihan Pemuda Tani dan Kelembagaan Dengan Kurikulum Sebagai Berikut :
KURIKULUM :
1. PENUMBUHAN KEBERSAMAAN
2. PENGUATAN KELEMBAGAAN
3. PERKOPERASIAN / BADAN USAHA
I PENUMBUHAN KEBERSAMAAN
DINAMIKA KELOMPOK
Pelatihan dilaksanakan selama 3 hari efektif, 8 sesi/hari @ 45 menit
NO MATERI
1 Dinamika Kehidupan
2 Pentingnya Keterbukaan
3 Motivasi Diri
4 Membangun Harapan dan Menemu Kenali Masalah
5 Pentingnya Kebersamaan
6 Filosofi Kemitraan
7 Menyikapi Bantuan
8 Motivasi Memperbanyak Sumber Pendapatan
9 Sepuluh Prinsip Dasar Kelompok Produktif
10 Strategi Dasar Pengelolaan Lahan
11 Pemantapan Kebersamaan
12 Penerapan Aturan dan Sanksi Kelompok
13 Sekilas organisasi Kelompok
14 Kewajiban dan Hak Anggota
15 Tugas, Kewajiban, Hak dan Wewenang Peng-urus serta Syarat-syarat Menjadi Pengurus
II. PENGUATAN KELEMBAGAAN
2.1. STRATEGI PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN PETANI (SPKP)
Pelatihan dilaksanakan selama 2 hari efektif, 8 sesi/hari @ 45 menit
NO MATERI
1 Pentingnya Peran dan Fungsi Pemimpin
2 Membangun Rumah Idaman Masa Depan
3 Monitoring Kelompok
4 Pemantapan Kerjasama
5 Membangun Kelembagaan Petani
6 Fungsi, Peran dan Tujuan FKMK
7 Pemilihan Pengurus
8 Membangun Kepercayaan
2.2. KEPEMIMPINAN DAN KOMUNIKASI (K & K)
Pelatihan dilaksanakan selama 2 hari efektif, 16 sesi @ 45 menit
NO MATERI
1 Harapan Pemimpin Ideal
2 Gaya Kepemimpinan
3 Pengambilan Keputusan
4 Pendelegasian
5 Motivasi
6 Komunikasi
7 Introspeksi Diri
2.3. MANAJEMEN KEBUN DAN BUDIDAYA (MKBD)
Pelatihan dilaksanakan selama 3 hari efektif, 24 sesi @ 45 menit
NO MATERI
1 Penggalian Pengalaman peserta Tentang Budidaya
2 Aspek-aspek Manajemen
3 Perencanaan dan Pengorganisasian
4 Pelaksanaan dan pengawasan
5 Teknis Budidaya
6 Optimalisasi Budidaya
7 Strategi Dasar Pengelolaan Kebun
8 Analisa Usaha Tani
9 Pembagian Kerja / Job description
10 Penyusunan Program kerja
2.4. ADMINISTRASI PEMBUKUAN DAN PROGRAM TABUNGAN (APPT)
Pelatihan dilaksanakan selama 3 hari efektif, 8 sesi/hari @ 45 menit
NO MATERI
1 Struktur Organisasi Kelompok dan Pembagian Tugas Pengurus
2 Aktivitas Kelompok Sistem dan Prosedur Administrasi
3 Administrasi Umum Kelompok
4 Sistem Akuntansi Kelompok
5 Program Tabungan Kelompok
6 Penyusunan Akuntansi
2.5. PENGEMBANGAN EKONOMI RUMAH TANGGA (PERT)
Pelatihan dilaksanakan selama 3 hari efektif , 24 sesi, @ 45 menit
NO MATERI
1 Penyusunan Harapan
2 Tujuan Berkeluarga
3 Pengertian Kebutuhan dan Keinginan
4 Pengertian dan Peranan Ekonomi Rumah Tangga
5 Kemandirian dan Tanggung Jawab Keluarga
6 Masa Depan Keluarga
7 Sumber Daya Keluarga
8 Pengendalian Waktu dan Kegiatan
9 Pengeluaran dan Sistem Penganggaran
10 Praktek Penyusunan Anggaran
11 Komunikasi Dalam Keluarga
12 Pengembangan Usaha Produktif Dalam Keluarga
III. PERKOPERASIAN
3.1. PERKOPERASIAN UNTUK ANGGOTA
Pelatihan Dilaksanakan Selama 2 Hari Efektif Pelatihan, 16 Sesi @ 45 Menit)
NO MATERI
1 Manajemen Akumulasi Aset Dan Usaha Bersama
2 Prinsip, Nilai dan Definisi Koperasi
3 Fungsi Koperasi
4 Struktur Koperasi
5 Hak Dan Kewajiban Anggota Dalam Koperasi
6 Prosedur Administrasi dan Keuangan Koperasi.
7 Tabungan Dana Kebun
8 Piutang/Hutang Anggota
9 Sistem Pembayaran
10 Rapat Anggota/Umum Tahunan
3.2. PEMBENTUKAN DAN PENYUSUNAN AD/ART KOPERASI
Pelatihan Dilaksanakan Selama 5 Hari Efektif , 40 Sesi @ 45 Menit)
NO MATERI
1 Proses dan Tata Cara Pembentukan Koperasi
2 Pengertian, Prinsip dan Konsep Badan Usaha atas Dasar UU No 17 Thn 2012
3 Ketentuan Perundang Undangan tentang Syarat Pembentukan
4 Tahapan Pembentukan Koperasi
5 Tata Cara Pengajuan dan Susunan Administrasi untuk Permohonan Pengesahan Akta Pendiriaan Koperasi
6 Pengertian Dan Landasan Penyusunan AD/ART
7 Ruang Lingkup AD/ART
8 Penyusunan dan Pembahasan Anggaran Dasar
9 Penyusunan dan Pembahasan Anggaran Rumah Tangga
3.3. MANAJEMEN ORGANISASI, SISTEM DAN PROSEDUR OPERASIONAL (MO, SPO)
(Pelatihan Dilaksanakan selama 4 Hari Efektif, 32Sesi @45 Menit)
NO MATERI
1 Pengertian Manajemen Organisasi
2 Struktur Organisasi
3 Pembagian Tugas, Wewenang dan Tanggung Jawab
4 Pengertian dan Tujuan Sistem 0perasional
5 Inventarisasi Kegiatan Koperasi
6 Penyusunan Sisdur Penerimaan dan Pengeluaran Kas dari Kegiatan Usaha
7 Penyusunan Sisdur Penerimaan dan Pengeluaran Kas dari Kegiatan Pembelian Aktiva Tetap
3.4. PERENCANAAN USAHA, PEMASARAN dan APB KOPERASI
(Pelatihan Dilaksanakan Selama 5 Hari Efektif , 40 Sesi @ 45 Menit)
NO MATERI
1 Pengertian & Fungsi Program Kerja & Anggaran
2 Penetapan Sasaran, Rencana & Program Usaha
3 Pemasaran Strategis
4 Inventarisasi Kebutuhan Manajemen
5 Penyusunan RAOB Satu Tahun
6 Penyusnan Cash Flow & PHU
3.5. AKUNTASI & MANAJEMEN KEUANGAN
(Pelatihan dilaksanakan selama 6 hari Efektif, 42 sesi @ 45 menit)
NO MATERI
1 Pengertian & Fungsi Akuntansi
2 Prinsip & Standard Akuntansi Keuangan
3 Proses Akuntansi
4 Pengertian, Bukti & Pencatatan Transaksi
5 Persamaan Akuntansi
6 Aturan Debet Kredit
7 Penyusunan Jurnal
8 Rekening Buku Besar
9 Neraca Lajur & Neraca Saldo
10 Penyusunan Laporan Keuangan (Neraca, PHU & Catatan Atas Laporan Keuangan)
11 Sistem Pengawasan Internal
12 Analisa Laporan Kuangan
3.6. PENGAWASAN DAN PEMERIKSAAN KOPERASI
(Pelatihan Dilaksanakan selama 3 Hari Efektif, 24 Sesi @ 45 Menit)
NO MATERI
1 Pengertian, Tujuan serta Karakteristik Pengawasan dan Pemeriksaaan Koperasi
2 Fungsi, Tujuan, Wewenang dan Tanggung Jawab Pengawas
3 Prinsip dan Tata Cara Persiapan Pemeriksaan
4 Pokok-Pokok Pemeriksaan Aktiva, Kewajiban dan Modal
5 Pokok-Pokok Pemeriksaan Pos-Pos Perhitungan Hasil Usaha
6 Tata Cara Penyusunan Laporan Hasil Pemeriksaan.


29 Januari 2017

EKONOMI KERAKYATAN


Mewujudkan Ekonomi Kerakyatan Melalui SKE-BMK (Sistem Kebersamaan Ekonomi Berdasarkan Manajemen Kemitraan)

27 Januari 2017

POSLUHDES


























POSLUHDES PUSAT NGUMPUL PETANI AGRIBISNIS DI DESA.

Pusat Koordinasi Teknis Kegiatan Pembangunan Pertanian Fokus Di Desa Melalui POSLUHDES (Pos Penyuluhan Pedesaan) Yang Melibatkan Seluruh Komponen Masyarakat Sebagai "TEAM WORK" ( PPL Wilbin, THL, PPS, KTNA Desa, Pemerintah Desa, Kelompoktani, Gapoktan, Taruna Tani / Pemuda Tani GEMPITA, Kelompok Wanita Tani, BUMP, BUMDes) Dengan Fokus Kegiatan One Village One Produk / Zonasi Desa Centra Komoditi Sesuai Potensi dan Kearifan Lokal serta berdasarkan Analisis Sosial Budaya Petani Di Masing-Masing Desa. Target POSLUHDES 93 Desa Se Kabupaten Pangandaran, Untuk Tahun 2017 Fasilitasi Pendirian POSLUHDES 20 Desa Dulu.
HANYA USUL DAN URUN REMBUG :

POSLUHDES Yang Akan Ditetapkan Mendapatkan Fasilitas Tahun 2017 Harusnya Desa / POSLUHDES Yang Sudah Jelas Komoditi Unggulannya Sebagai Zonasi Desa Sentra Komoditi, Dan Harus Sudah Di PERDES kan, Kalo Belum Di PERDES kan Agar Segera Diusulkan Ke Pemerintah Desa Melalui Kepala Desa.

Starnya Positif, Proses Pelaksanaannya Positif, Hasilnya Positif.
SANIAT SATEKAD SATUJUAN PETANI KTNA PANGANDARAN HEBAT,
KITA WUJUDKAN PETANI KTNA JAWARA PAKIDULAN.


Apa Posluhdes itu ?

Posluhdes = Pos Penyuluhan Desa
Dalam UU No. 16 Tahun 2006 pasal 16, pengertian Posluhdes adalah unit kerja nonstruktural yang dibentuk dan dikelola secara partisipatif oleh pelaku utama. Adanya Posluhdes dapat sebagai wadah penyuluh PNS, penyuluh swasta dan swadaya serta pelaku utama dan pelaku usaha di perdesaan sebagai tempat berdiskusi, merencanakan, melaksanakan, dan memantau kegiatan penyuluhan di desa/kelurahan masing-masing.

Apa Fungsi Posluhdes itu ?

Posluhdes berfungsi sebagai tempat pertemuan para penyuluh, pelaku utama, dan pelaku usaha untuk: 
(1) Menyusun programa penyuluhan; 
(2) Melaksanakan penyuluhan di desa/kelurahan; 
(3) Menginventarisasi permasalahan dan upaya pemecahannya; 
(4) Melaksanakan proses pembelajaran melalui percontohan dan pengembangan model usahatani bagi pelaku utama dan pelaku usaha; 
(5) Menumbuhkembangkan kepemimpinan, kewirausahaan, serta kelembagaan pelaku utama dan pelaku usaha; 
(6) Melaksanakan kegiatan rembug, pertemuan teknis, temu lapang, dan metode penyuluhan lain bagi pelaku utama dan pelaku usaha; 
(7) Memfasilitasi layanan informasi, konsultasi, pendidikan, serta pelatihan bagi pelaku utama dan pelaku usaha; dan 
(8) Memfasilitasi forum penyuluhan perdesaan.

Bila disimak dari pengertian dan fungsinya, Posluhdes tidak beda jauh dengan Balai Penyuluhan pada tingkat kecamatan. Bedanya, Posluhdes berada di desa / kelurahan, milik desa / kelurahan, dibentuk dan diurus secara partisipatif (melibatkan) pelaku utama (Rahayu, 2015).

Apa Tujuan Pembentukan Posluhdes itu ?

Tujuan Pembentukan Posluhdes adalah untuk mempermudah dan memperlancar penyampaian informasi teknologi kepada petani, agar petani lebih proaktif dalam mencari teknologi dan informasi pertanian secara umum, disamping untuk merangsang petani / kontak tani dan kelompok tani dalam berkarya dan menemukan teknologi baru yang merupakan hasil karya petani sendiri.

Sebagai basis kegiatan penyuluhan pertanian di Desa, Posluhtan merupakan pos koordinasi, konsultasi dan sinkronisasi seluruh kegiatan yang terkait dengan penyuluhan, serta sebagai sumber informasi dan tempat konsultasi bagi petani / kontak tani. melakukan kunjungan ke kelompok tani di lapangan (Bapeluh Cilacap, 2015).

Apa Sarana Dan Prasarana Posluhdes itu ?

Melihat fungsi Posluhdes yang tidak jauh berbeda dengan fungsi Balai Penyuluhan Pertanian di tingkat Kecamatan  yaitu untuk pertemuan para Penyuluh, Pelaku utama, Pelaku usaha untuk melakukan kegiatan kegiatan penyuluhan.tingkat kecamatan, sedangkan Poslauhdes hanya pada ruang lingkup tingkat desa oleh sebab itu sarana dan prasarana posluhdes tidak selengkap pada sarana dan prasarana yang ada di Balai Penyuluhan Pertanian  di kecamatan  diantaranya  :
                - Ruang pertemuan.
                - Papan tulis dan papan data.
                - Bahan bahan Informasi Penyuluhan.
                - Ruang Sekertariat  dan fasilitas lainya.
                - Lahan percontohan
Minimal dapat untuk kegiatan rutin penyuluhan, posluhdes tidak harus tersendiri seperti Balai Penyuluhan di tingkat Kecamatan, hal ini dapat di koordinasikan dengan Kepala Desa /Kelurahan  untuk memfasilitasi Tempat Posluhdes.
Keberadaan Posluhdes tidak tergantung peran pemerintah pusat dan daerah, melainkan tergantung kebutuhan dan upaya pelaku utama untuk membentuknya serta menyediakan sarana serta prasarana yang diperlukan. Tersedianya sarana dan prasarana Posluhdes dapat dibantu oleh siapapun termasuk pihak pemerintah dari tingkat desa/kelurahan sampai dengan tingkat pusat (Rahayu, 2015).

Apa Kegunaan Sarana dan Prasarana Posluhdes itu ?

a.  Ruang pertemuan, berupa tempat pertemuan bisa tertutup atau semi terbuka seperti tempat pertemuan.
b. Saung, tidak harus ada kursi bisa lesehan menyesuaikan dengan kondisi yang ada, tempat ini  bisa untuk melakukan pertemuan ,musyawarah, berdiskusi dan untuk melakukan kegiatan kegiatan yang berhubungan dengan kemajuan Posluhdes.
c.  Papan Tulis, digunakan untuk membantu menjelaskan dalam kegiatan penyuluhan serta    bimbingan penyuluhan pada  petani.
d.  Papan Data, digunakan untuk menyajikan data-data desa yang diperlukan untuk dasar kegiatan penyuluhan.
e. Bahan Informasi, dapat berupa Leflet, Brosur, Liptan dan lainnya untuk menambah wawasan petani.
f. Ruang Sekertariat berukuran sedang, yang berfungsi untuk menyimpan peralatan dan arsip kegiatan-kegiatan Posluhdes.
g. Lahan Percontohan, diharapkan sebagai lahan uji coba kegiatan budidaya tanaman, untuk  penerapan teknologi baru  yang diharapkan dapat menjadi model usaha tani baru untuk dikembangkan di tingkat petani.

Bagaimana Pembiayaan Posluhdes itu ?

Pembiayaan posluhdes yang bersifat partisipatif oleh pelaku utama dan pelaku usaha atau bahkan masyarakat tani agar dapat berperan aktif dalam mengelola Posluhdes. Sehingga tidak menutup kemungkinan perlu  ditumbuh kembangkan kegiatan yang bersifat produktif dan mengikat aktifitas didalam posludes (Nyata, 2015).

Bagaimana Peran Penyuluh Pertanian terhadap Posluhdes itu ?

1. Memahami  keberadaan Posluhdes tentang  Pengertian, Fungsi, serta Peranannya.
2. Menumbuhkan Posluhdes di setiap desa/kelurahan binaan masing masing.
3.Memfasilitasi Posluhdes yang sudah ditumbuhkan agar berperan aktif sesuai peran dan fungsinya.
4.Mendorong peran serta Posluhdes  dalam pembangunan di wilayahnya.
5.Pendampingan Posluhdes dalam rangka mewujudkan  Kemandirian  Admnistrasi dan organisasi.